Jenis Tanaman Sifat baru hasil modifikasi Proses Modifikasi
Padi Mengandung provitamin A (beta karoten) dalam jumlah tinggi Gen dari tumbuhan narsis, jagung, dan bakteri Erwinia disisipkan pada kromosom padi
Jagung, kapas, kentang Tahan (resisten) terhadap hama. Gen toksin Bt dari bakteri Bacillus thuringiensis ditransfer ke dalam tanaman.
Tembakau Tahan terhadap cuaca dingin. Gen pengatur pertahanan pada cuaca dingin tanaman Arabidopsis thaliana atau dari sianobakteri  (Anacyctis nidulans) dimasukkan ke tembakau.
Tomat Pelunakan tomat diperlambat sehingga  tidak cepat busuk Gen  antisenescens ditransfer ke dalam tomat untuk menghambat enzim poligalakturonase (enzim yang mempercepat kerusakan dinding  sel tomat). Selain menggunakan gen dari bakteri E. coli,  tomat transgenik juga dibuat dengan memodifikasi gen yang telah dimiliknya secara alami.
Kedelai Mengandung asam oleat tinggi dan tahan terhadap herbisida glifosat. Ketika disemprot dengan herbisida, hanya gulma di sekitar  kedelai yang akan mati. Gen resisten herbisida dari bakteri   Agrobacterium galur CP4 dimasukkan ke kedelai dan juga digunakan teknologi molekular untuk meningkatkan pembentukan asam oleat.
Ubi jalar Tahan terhadap penyakit tanaman yang disebabkan virus Gen dari selubung virus tertentu ditransfer ke dalam ubi jalar dan dibantu dengan teknologi peredaman gen.
Pepaya Resisten terhadap virus tertentu, contohnya Papaya ringspot virus(PRSV). Gen yang menyandikan selubung virus PRSV ditransfer ke dalam tanaman pepaya
Melon Buah tidak cepat busuk. Gen baru dari bakteriofag T3 diambil untuk mengurangi pembentukan hormon etilen (hormon yang berperan dalam pematangan buah) di melon.

Asal kata “epidermis” adalah epi artinya tepi dan derma artinya kulit yang berasal dari Yunani. Sesuai namanya, jaringan epidermis dalam tubuh tumbuhan berfungsi sebagai penutup dan pelindung jaringan lainnya, terutama pada jaringan muda yang masih memungkinkan mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Karena itu, jaringan epidermis terletak pada lapisan terluar akar, batang, dan daun. Ciri jaringan epidermis antara lain selnya hidup dan tersusun rapat, tidak memiliki klorofil dan berbentuk balok.

Jaringan epidermis juga mampu melakukan diferensiasi epidermis. Karena itu, jaringan epidermis pada tumbuhan tertentu memiliki stomata, sel kipas, sel gabus, sel kersik, trikomata, spina, dan velamen. Derivat-derivat ini dapat ditemukan baik pada akar, batang, maupun daun.
1). Stomata (tunggal disebut stoma) atau mulut daun
Merupakan pori kecil yang diapit oleh dua sel penjaga. Di dalam sel penjaga terdapat kloroplas. Kloroplas merupakan bagian epidermis yang berisi kloro?l dengan peran sebagai tempat terjadinya proses fotosintesis. Fungsi stomata adalah sebagai tempat terjadinya respirasi (pertukaran gas) dan juga transpirasi (proses penguapan air).

2). Sel kipas. ( Bulliform Cell)
Sel kipas terdapat pada epidermis atas daun rumput-rumputan (Gramineae atau Cyperaceae). Sebagai contoh, sel kipas pada rumput teki dan daun bambu. Sel kipas bentuknya lebih besar dibanding sel epidermis, dinding sel tipis dan bisa mengempis. Daun rumput teki, bambu, dan sejenisnya dapat menggulung untuk mengurangi penguapan. Sel epidermis daun atas juga mengalami diferensiasi.

3). Lapisan kutikula (senyawa lemak),
Merupakan zat kutin yang mengalami penebalan, Contohnya daun pohon nangka. Sementara lapisan lilin dapat ditemukan pada epidermis bawah daun. Misalnya saja, lapisan lilin pada daun pisang.

4). Trikoma (jamak disebut trikomata).
Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa rambut-rambut. Trikoma biasanya terletak pada akar, daun, batang, bunga, buah, maupun biji. Pada sel epidermis, trikoma muncul dari epidermis atas. Jumlah selnya bisa tunggal atau banyak. Ada trikoma yang mempunyai kelenjar sekretori dan ada juga yang tidak. Trikoma memiliki beragam fungsi, antara lain mengurangi penguapan, mengurangi gangguan hewan, dan membantu penyerbukan bunga. Trikoma juga berfungsi menyerap air dan garam mineral dari tanah, misalnya trikoma pada akar. Selain itu, trikoma mampu meneruskan rangsang dari luar dan membantu penyebaran biji.

Peranan trikoma bagi tumbuhan, antara lain sebagai berikut.

  1. Trikoma yang terdapat pada epidermis daun berfungsi untuk mengurangi penguapan.
  2. Menyerap air serta garam-garam mineral.
  3. Mengurangi gangguan hewan.

Trikoma dibedakan menjadi dua, yaitu :
a) Trikoma Glanduler
Trikoma glanduler merupakan trikoma yang dapat menghasilkan sekret. Trikoma glanduler dapat bersel satu atau banyak. Tumbuhan yang memiliki trikoma glanduler, contohnya, tembakau (Nicotiana tabacum) yang terletak pada daunnya.
Macam-macam trikoma glanduler antara lain:
(1) trikoma hidatoda, terdiri atas sel tangkai dan beberapa sel kepala dan mengeluarkan larutan yang berisi asam organik;
(2) kelenjar madu, berupa rambut bersel satu atau lebih dengan plasma yang kental dan mampu mengeluarkan madu ke permukaan sel permukaan sel;
(3) kelenjar garam terdiri atas sebuah sel kelenjar besar dengan tangkai yang pendek.
(4) Rambut gatal, berupa sel tunggal dengan pangkal berbentuk kantong dan ujung runcing. Isi sel menyebabkan rasa gatal.
b) Trikoma Nonglanduler
Trikoma ini tidak menghasilkan sekret. Macam-macam Trikoma nonglanduler, antara lain:
(1) rambut sisik, misalnya pada daun durian;
(2) rambut bercabang, misalnya pada daun waru;
(3) rambut akar.

5). Spina (Duri) pada batang atau cabang tumbuhan.
Duri (spina) merupakan modi?kasi sel epidermis yang terdapat pada tumbuhan tertentu. Duri tumbuhan terbagi dalam dua jenis, yakni duri asli dan duri palsu. Duri asli dibentuk oleh jaringan di dalam stele batang. Misalnya, duri pada tanaman bunga kertas (Bougainvillea). Sedangkan duri palsu dibentuk oleh jaringan di bawah epidermis yaitu jaringan korteks batang. Contohnya, duri pada batang tumbuhan mawar.

6). Velamen.
Velamen merupakan modi?kasi sel epidermis yang terdapat pada akar udara tanaman anggrek. Epidermis dan akar anggrek disebut epidermis ganda atau multipel epidermis. Velamen berfungsi sebagai tempat menyimpan air.

7). Kersik.

Sel kersik merupakan hasil modifikasi sel epidermis pada batang Graminae. Sel kersik mengandung zat kersik atau silika (SiO2). Batang tebu adalah tanaman yang banyak mengandung sel ini. Karenanya, permukaan batang tebu menjadi keras.

Embrio angiospermae berkutub 2, yaitu terdiri atas titik tumbuh akar dan titik tumbuh batang.

TEORI TITIK TUMBUH

a. Teori HISTOGEN dari Hanstein
Ada 3 titik tumbuh:
1. Dermatogen atau protoderm
– Pembentuk epidermis
– Terdiri atas satu lapis sel
2. Periblem atau meristem dasar
– Pembentuk korteks.
– Terdiri atas beberapa lapis sel.
3. Plerom atau prokambium
– Pembentuk silinder pusat atau stele.
– Terdiri atas beberapa lapis sel.

b. Teori TUNIKA KORPUS dari Schmidt
Ada 2 titik tumbuh:
1. Tunika
– Lapisan luar
– Hasil pembelahan menambah luas permukaan titik tumbuh
2. Korpus
– Lapisan sebelah dalam.
– Dapat membelah ke segala arah.

JARINGAN TUMBUHAN

a. Jaringan meristematis

  • Meristem apikal: ujung akar, ujung cabang, dan ujung batang.
  • Meristem lateral: kambium pembuluh, kambium gabus, dan perikambium (perisikel)
  • Meristem interkalar: terdapat pada pangkal ruas batang tumbuhan monokotil.

Keterangan tambahan:
Kambium pembuluh terdiri atas:

  • Kambium fasikuler (dalam berkas pembuluh), membelah keluar membentuk floem, membelah kedalam membentuk xilem. Aktifitas membelah kedalam lebih cepat daripada membelah keluar sehingga jumlah kayu (xilem) lebih banyak daripada kulit kayu.
  • Kambium interfasikuler (diantara berkas pembuluh), membelah kedalam dan keluar membentuk jari-jari empulur, yang berfungsi untuk menyimpan dan menyalurkan makanan secara lateral

 

Kambium gabus (felogen)
Merupakan jaringan dari hasil diferensiasi jaringan korteks terluar batang dan kolenkim. Membelah kedalam membentuk feloderm (sel hidup) dan membelah keluar membentuk felem (sel mati). Felem dan feloderm merupakan periderm penyusun kulit tubuh tumbuhan menggantikan epidermis. Pada akar, kambium gabus berasal dari diferensiasi perisikel.

 

Perikambium (perisikel)
Terdiri atas sel-sel meristematis dan terletak di bagian terluar dari stele (silinder pusat). Fungsi jaringan perisikel membentuk cabang akar. Perisikel juga dapat berdiferensiasi menjadi felogen (kambium gabus) di akar.

 

 

universe-review.ca5

 

b. Jaringan pelindung : Epidermis

  • Tersusun oleh sel-sel yang rapat, tidak mengandung kloroplast dan dapat bermodifikasi menjadi sel penutup stomata, trikoma, bulu akar, dan lain-lain.
  • Pada biji Gossypium (kapas) mempunyai rambut epidermis yang dapat digunakan untuk tekstil.

 

c. Jaringan pelindung: endodermis
Endodermis merupakan jaringan yang terletak diantara silinder pusat (stele) dan korteks. Pada endodermis terjadi penebalan sekunder yang disebut pita Caspary, yang fungsinya untuk seleksi terhadap air dan zat terlarut memasuki stele.

 

d. Jaringan dasar: Parenkim

  • Sel mempunyai bentuk bervariasi, berdinding tipis, dengan fungsi sebagai jaringan pengisi (korteks dan empulur), penyimpan makanan (pada umbi-umbian), penyimpan metabolit sekunder (pada lateks), transportasi (empulur lumut dan jari-jari empulur), fotosintesis (mesofil), pembentuk akar (pada daun cocor bebek dan proses mencangkok), dan lain-lain.
  • Klorenkim, parenkim berkloroplast, untuk fotosintesis. Contoh parenkim berkloroplas adalah mesofil (pallisade dan spons) didaun dan batang berhijau daun.

 

e. Jaringan penunjang/penguat/penyokong
– Kolenkim

  • Penebalan dinding sel bervariasi: kolenkim sudut (penebalan dinding sel terdapat pada sudut sel), dan kolenkim papan (penebalan dinding pada seluruh dinding sel, kolenkim lakunar (penebalan dinding terdapat dekat ruang antar sel)
  • Selnya hidup dengan dinding sel dari selulosa, pektin dan hemiselulosa (tidak berlignin)
  • Jaringan penguat utama batang muda/ tumbuhan basah.

 

– Skerenkim

  • Terdiri atas dua jenis sel: sklereid (sel batu) dan serat.
  • Selnya mati dengan dinding sel berlignin.
  • Jaringan penguat utama bagian tumbuhan yang sudah tua.
  • Serat yang bernilai ekonomi:

(1) Serat dikotil (serat floem): hemp (Cannabis sativa) untuk tali, jute (Corchorus capsularis) untuk tali dan tekstil kasar), kenaf (Hisbiscus cannabis) untuk tekstil kasar, flax (Linum usitatissimum) untuk tekstil (misalnya linen) dan untuk tali, rami (Boehmeria nivea) untuk tekstil.
(2) Serat monokotil (serat daun): Manila hemp (Musa textilis) untuk tali, bowstring hemp (Sanseviera) untuk tali, henequen (Agave) untuk tali dan tekstil kasar, New Zealand hemp (Phormium tenax) untuk tali, serat nanas (Ananas comusus) untuk tekstil, sisal (Agave sisalana) untuk tali, daun jagung (Zea mays) dan daun tebu (Saccharum officinarum) untuk kertas.

 

f. Jaringan penghantar
(1) xilem

  • Terdiri atas: elemen trakea (trakeid dan komponen trakea), serat xilem dan parenkim xilem. Komponen trakea selnya berperforasi, sedang trakeid tidak berperforasi.
  • Fungsi: mengangkut air dan mineral dari tanah menuju ke daun.

(2) Floem

  • Terdiri atas: elemen tapis (sel-sel tapis dan komponen pembuluh tapis), sel pengiring (companion cell), serat floem dan parenkim floem.
  • Fungsi: mengangkut hasil fotosintesis dari daun dan bagian berkloroplas ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

Platyhelminthes disebut juga cacing pipih (platy berarti pipih dan helminthes berarti cacing)

a.   Ciri-Ciri 

  • Bentuk tubuh pipih, simetri bilateral, triploblastik, dan acoelomata.
  • Tubuhnya terdiri atas bagian kepala (anterior), ekor (posterior), bagian punggung (dorsal), bagian perut (ventral), dan bagian samping (lateral).
  • Sistem pencernaan makanan belum sempurna, terdapat mulut dan belum memiliki anus. Makanan masuk melalui mulut —> farink —> usus —> dan dikeluarkan melalui mulut.
  • Belum memiliki sistem respirasi. Masuknya oksigen (O2)dan keluarnya karbon dioksida (CO2) melalui permukaan kulit.
  • Sistem ekskresi tersusun atas sel-sel bersilia ( flame cells /aster / sel api ).
  • Susunan syaraf  terdiri  atas 2 ganglia yang  berbentuk cincin membentuk tangga tali.
  • Reproduksi secara  seksual dan aseksual. Secara seksual dilakukan dengan  perkawinan silang atau perkawinan sendiri, karena  bersifat hermaprodit (monoceus). Secara aseksual dengan  fragmentasi dan membentuk generasi baru (regenerasi).
  • Hidup bebas di air tawar maupun tempat–tempat lembab.

b.  Klasifikasi Platyhelminthes

Platyhelminthes terbagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria (cacing berambut getar), Trematoda (cacing isap), dan Cestoda (cacing pita).

1)     Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar)

Ciri dan Karakteristik

  • memiliki struktur tubuh yang bersilia. Silia ini berfungsi sebagai alat gerak. Selain menggunakan silia, hewan dari kelas ini bergerak menggunakan otot tubuhnya yang menyerupai gelombang.
  • memiliki stigma/oseli (bintik mata), yaitu indera yang  peka terhadap rangsang cahaya  dan aurikula (telinga) sebagai indera peraba.
  • tidak memiliki sucker (alat penghisap / pelekat).
  • Sistem syaraf berupa ganglia.
  • sistem pencernakan masih sederhana (mulut, faring, usus), mulut di    bagian ventral.
  • sistem ekskresi berupa sel – sel api (aster/flame sel ).
  • sistem reproduksi secara vegetatif dengan amphigoni dan Memiliki daya regenerasi yang  tinggi (apabila tubuhnya terpotong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru), dan secara  generatif dengan  perkawinan (bersifat hermaprodit).
  • hidup bebas di air tawar dan di tempat yang lembab.

Contoh :

  • Dugesia trigina, Planaria sp (hidup di air tawar yang  tidak berpolusi). Cacing ini dapat digunakan sebagai indikator biologis kemurnian air. Apabila dalam suatu perairan banyak terdapat cacing ini, berarti air tersebut belum tercemar karena cacing ini hanya dapat hidup di air yang jernih, sehingga apabila air tersebut tercemar maka cacing ini akan mati.
  • Biphalium sp , hidup di tempat lembab (di bawah lumut)

2)     Kelas Trematoda (Cacing Isap)

Ciri dan Karakteristik

  • bentuk pipih seperti lembaran daun.
  • memiliki alat penghisap (sucker) di bagian anterior (mulut) dan posterior (ventral tubuh), sehingga bersifat endoparasit atau merugikan.(sucker) yang berfungsi sebagai pengisap cairan tubuh inangnya.
  • tubuh tersusun atas lapisan kutikula yang befungsi melindungi Trematoda dari enzim penghancur yang dikeluarkan oleh organisme inang.
  • tidak memiliki silia (rambut getar).
  • sistem syarat, respirasi, dan ekskresi sama seperti pada Planaria sp.
  • sistem reproduksi secara generatif (bersifat hermaprodit), secara vegetatif dengan cara partenogenesis.

Contoh :

  • Fasciola hepatica,  habitat pada hati hewan ternak (kambing, kerbau, dan sebagainya). bentuk pipih seperti daun, memiliki 2 alat isap, sifat kelamin hermaprodit, dan tidak bersegmen.   Siklus Hidup-nya :cacing dewasa —> telur —> stadium mirasidium  (larva 1)  —> sporocyste —> redia (larva 2) —> sercaria (larva 3) —> metasercaria —>cyste —> cacing dewasa. Cacing dewasa dan telur berkembang dalam tubuh sel inang.  larva 1 – larva 3 berkembang dalam tubuh hospes siput air ( Lymnea sp ) dan ikan, metasercaria dan cyste hidup di alam bebas.

Siklus Hidup Fasciola hepatica

  • Chlonorchis sinensis , habitat di hati manusia. ciri–ciri dan siklus hidupnya sama dengan Fasciola hepatica, dengan  inang perantara Siput (Alocinma sp ) dan ikan air tawar.

  • Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni  ; habitat pada pembuluh darah (vena), sehingga di sebut juga cacing darah. Inang perantaranya adalah Siput (Oncomelanian hupensis). Bersifat sbg parasit ®  menimbulkan penyakit (schistosomiasis)  yang dapat  menyebabkan kerusakan pada hati, jantung, limfa, kantung kemih, dan ginjal.

  • Fasciola buski,  hidup di usus
  • Paragonimus westermani ,  hidup di paru–paru
  • Metagonimus yokogawai ,  hidup dalam usus halus

3)     Kelas Cestoda (Cacing Pita)

Ciri dan Karakteristik

  • Bentuk tubuh pipih panjang seperti  pita.
  • Tubuh terbagi atas kepala (scolex), leher (collum), dan tubuh belakang (abdomen).  Pada scolex terdapat alat kait (rostellum)  dan 4 buah alat  isap (sucker) untuk melekat pada  dinding usus.  Abdomen terdiri  atas ruas–ruas  yang masih semu (Pseudosegmen). Tiap ruas dinamakan proglotid,  yang  didalamnya terdapat sistem syaraf, respirasi, ekskresi,  pencernakan, dan reproduksi. Proglotid  yang tersusun secara tidak beraturan dinamakan strobilasi.
  • Tubuh  dilapisi  kutikula yang tebal, dan tidak  memiliki silia.
  • Belum memiliki mulut dan alat pencernakan yang nyata.
  • Reproduksi secara  vegetatif dengan fragmentasi proglotid, dan secara generatif dengan perkawinan. Tiap proglotid memiliki ovarium     dan testis, jika terjadi pembuahan ribuan telur dalam proglotid mengandung embrio (onkosfer).

Contoh :

  • Taenia solium,  hidup pada usus manusia dan sebagai hospes adalah daging babi.  Siklus hidupnya :  proglotid yang  dewasa keluar lewat feces dan mengandung larva ankosfor, dan menempel pada tanaman. Bila termakan oleh babi akan tumbuh menjadi heksakant. Heksakant menembus dinding  usus  masuk ke aliran darah, kemudian ke dalam otot atau jaringan lain pada babi menjadi sistiserkus.  Bila sistiserkus dalam daging hewan ternak babi termakan manusia akan menetas menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia.

Daur Hidup Taenia solium

  • Taenia saginata ,  parasit pada manusia dengan perantara daging sapi. siklus hidupnya hampir sama dengan Taenia solium.
  • Taenia echinococcus parasit pada  usus manusia dengan perantara binatang buas (anjing).
  • Diphylobothrium latum ,  parasit pada  usus manusia dengan perantara hewan aquatik (ikan).
  • Choanotaenia infundibulum,  inang tetapnya adalah  ayam dan inang    perantaranya adalah  hewan arthropoda.

c.  Peranan Platyhelminthes

  • Hampir semua anggota Platyhelminthes merugikan (parasit), Caing Isap menyebabkan penyakit, cacing pita yang sangat panjang dapat menyumbat usus dan menyerap sari-sari makan yang  cukup banyak.
  • Planaria sp dapat digunakan sebagai indikator perairan yang tidak tercemar oleh limbah.

 

Semua materi diambil dari sini

Ciri-ciri coelenterata

  1. Tubuh simetri radial dan diploblastik.
  2. Rongga tubuh berfungsi sebagai usus.
  3. Memiliki tentakel yang berfungsi untuk menangkap atau melumpuhkan mangsa.
  4. Pada tentakel dilengkapi dengan sel knidobiast/knidosit yang mengandung sel penyengat (nematokis).
  5. Pengambilan gas O2
  6. Habitat di perairan (air tawar/laut).
  7. Tubuh mengalami metagenesis menjadi dua tipe, yaitu:
    • Tipe polip, yaitu tipe tubuh yang hidupnya tak bebas atau menempel pada substrat tertentu.
    • Tipe medusa (seperti payung), yaitu tipe yang dapat hidup bebas (dapat berenang).

8. Sistem perkembangbiakannya, yaitu:

    • Perkembangbiakan secara tidak kawin, melalui pembentukan tunas/kuncup yang menempel pada hewan induknya.
    • Perkembangbiakan kawin melalui fertilisasi eksternal, yaitu dengan penyatuan sperma dengan sel telur hingga membentuk zigot.

Klasifikasi Coelenterata
Coelenterata diklasifikasikan menjadi tiga kelas. yaitu:

Hydrozoa.

  • Hidup di air tawar atau air laut.
  • Cara hidup yaitu dengan berkoloni.
  • Organisme ini mempunyai bentuk tubuh seperti silinder dan dapat bergerak di bebatuan untuk menangkap makanan. Setelah berhasil menangkap makanannya  dimasukannya kedalam tubuh melalui HIPOSTOM (Mulut).
  • Perkembang biakannya dilakukan secara aseksual dan seksual.
  • Contoh : Hydra, Obelia, dan Physalia

Scypozoa.

  • Berukuran besar, banyak di pantai pantai sebagai ubur ubur.dan hidup di  laut
  • Alat pencernaannya berupa saluran bercabang
  • Bagian tepinya di kelilingi tentakel
  • Disekitar mulutnya terdapat empat lengan yang dilengkapi dengan NEMATOKIST yang berfungsi untuk melemahkan mangsa.
  • Sistem saraf berbentuk anyaman
  • Contoh Aurelia aurita atau ubur ubur, Cyanea dan Chrysaora frutteoens.

 

 

 

 

Anthozoa.

  • Berbentuk mirip bunga, memiliki warna beraneka ragam dan merupakan pembentuk anemon laut atau terumbu karang
  • Memiliki tentakel dalam jumlah yg banyak, kelipatan  8
  • Hewan ini hidup di air laut yang jernih
  • Hanya memiliki bentuk polip dengan ukuran yang lebih besar daripada dua jenis yang lain.
  • Contoh: Tubastera, Turbinaria, dan Urticina

Fotorespirasi (atau “respirasi cahaya“) adalah respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan energi dan ketersediaan oksigen dalam sel juga memengaruhi fotorespirasi.

Fotorespirasi disebut juga “asimilasi cahaya oksidatif”, terjadi pada mesofil daun terutama pada tumbuhan C3, seperti kedelai dan padi. Proses ini terjadi pada stroma kloroplas, dan didukung oleh peroksisom dan mitokondria.

Secara biokimia, proses fotorespirasi merupakan cabang dari jalur glikolat. Enzim utama yang terlibat adalah Rubisco (ribulosa-bifosfat karboksilase-oksigenase). Rubisco memiliki dua sisi aktif: sisi karboksilase yang aktif pada fotosintesis dan sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi pada stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, ribulosa bifosfat (RuBP), dan juga dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion Magnesium dan derajat keasaman (pH) sel. Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis, suatu kondisi yang tidak disukai kalangan pertanian, karena mengurangi akumulasi energi.

Jika kadar CO2 dalam sel rendah (misalnya karena meningkatnya penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen sangat tinggi dan stomata menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi Phosphoglikolat dan Phosphogliserat (dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). Phosphogliserat akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. Phosphoglikolat memasuki peroksisoma, lalu mitokondria, lalu kembali ke peroksisoma untuk diubah menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal oleh siklus Calvin menjadi gliseraldehid-3-fosfat (G3P).

Secara skematik fotorespirasi sebagai berikut:

photorespiratory pathway

Metabolisme Tanaman C4

c4 metabolism

Metabolisme Tanaman CAM

 

CAM metabolism

 

Pembagian mulut serangga tergantung dari : stadium perkembangan, bentuk makanan dan enis makanannya.

1. TIPE MENGGIGIT – MENGUNYAH (chewing type)
bagian-bagiannya :labrum, epypharynx, mandibula,maxila, hypopharynx & labium
contoh : larva Lepidoptera, nimpa & imago Isoptera, Coleoptera, dan Orthoptera

2. TIPE MENGUNYAH – MENGHISAP (Chewing Lapping type)
Tipe ini mempunyai ciri: maxila & labium memanjang & menyatu, ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut “ flabellum”
contoh : lebah madu / Apis cerana

3. TIPE MENJILAT – MENGHISAP (Sponging type)

Ciri: Labium berubah menjadi tabung, ruas pangkal tabung disebut “rostrum” dan ujungnya disebut “labellum”
contoh : lalat rumah

4. TIPE MENUSUK – MENGHISAP (Piercing & sucking type)
Ciri: (a) Labium sangat menonjol, bukan untuk menusuk dan mengisap, (b) Ada 4 “stylet” yang sangat runcing, untuk menusuk & mengisap cairan dari maxilla dan mandibula, (c) Stylet menempel pada labium. contoh : kepik (Ordo Hemiptera), wereng (Ordo Homoptera)

5. TIPE MENGHISAP (Siphoning type)
Ciri: labrum mengecil, palpus maxillaris mengecil atau menghilang, tidak ada mandibula, labium mempunyai palpus labialis yang berambut dan memiliki 3 ruas, “proboscis” dibentuk oleh bagian maxilla yaitu galea menjadi suatu tabung panjang dan menggulung seperti pegas, dan proboscis tidak dapat dipergunakan untuk menusuk kulit binatang, epidermis daun, ataupun buah dan biji.
contoh : ngengat, kupu-kupu

Klas 1
         1. Bryophyta & Pterydophyta, klik disini
Klas 2
  1. Biologi Sel, klik disini
  2. Spermatophyta, klik disini

Klas 3

  1. Pertumbuhan & Perkembangan, klik disini
  2. Metabolisme, klik disini
  3. Materi Hereditas,klik disini
  4. Reproduksi Sel,klik disini
  5. Genetika, klik disini
  6. Mutasi, klik disini
  7. Asal Usul Kehidupan, klik disini
  8. Evolusi,klik disini
  9. Bioteknologi, klik disini
PEMBANDING PROKARIOT EUKARIOT
Organisme Bakteri dan alga biru (Cyanophyta) Fungi,tumbuhan dan hewan
Ukuran sel 1 sampai 10 mikrometer 10 sampai 100 mikrometer
Metabolisme Aerob dan anaerob Aerob
Organel Hanya ribosom Nukleus, mitokondria, RE, lisosom.       Kloroplast, dll
DNA Letak : sitoplasmaBentuk : sirkuler Letak : nukleoplasmaBentuk : benang halus yang sangat panjang
RNA dan protein Disintesis dalam sitoplasma Disintesis di nukleoplasma, protein disintesis di sitoplasma
Sitoplasma Tanpa sitoskelet; tidak ada gerakan sitoplasma Memiliki sitoskelet; terjadi gerakan sitoplasma
Pembelahan sel Kromatin ditarik dengan jalan melekat pada membran sel Kromosom dipisahkan oleh spindel pembelahan
Organisasi seluler Umumnya monoseluler Umumnya multiseluler

 

1. Sifat Fisika
a. Cairan sitoplasma bersifat koloid (larutan, ukuran partikel < 0,001 ?, koloid, ukuran partikel 0,001 – 0,1 ?, suspensi, ukuran partikel 0,1 ?)
b. Sifat koloid memungkinkan terjadinya gerak Brown, gerak acak partikel dipengaruhi oleh: berat jenis, suhu dan ionisasi, gerak rotasi dan gerak sirkulasi.
c. Dapat mengalami perubahan dari sol ke gel.
d. Efek Tindal yaitu kemampuan membiaskan cahaya.

2. Sifat Kimia

a. Mengandung senyawa anorganik : air, garam mineral dan gas (O2, N2, dan CO2).
b. Mengandung senyawa organik: monosakarida, lemak, protein, dan asam nukleat.
c. Mengandung enzim sebagai biokatalisator
d. Mempunyai derajat keasaman (pH) tertentu.

Ada 2 cara pembentukan embrio tumbuhan Angiospermae:

  1. Fertilisasi (amfiksis, amfimiksis): embrio terjadi dari fertilisasi inti generatif dan ovum (sel telur).
  2. Tanpa fertilisasi (apomiksis): terjadinya embrio tanpa pembuahan (fertilisasi).
  • Partenogenesis: embrio berasal dari sel telur yang tidak dibuahi.
  • Apogami: embrio berasal dari bagian lain dalam kandung lembaga tanpa dibuahi.
  • Embrio adventif: embrio terjadi dari pertumbuhan jaringan nuselus

Poliembrioni: embrio lebih dari satu, akibat amfiksis dan apomiksis terjadi bersama-sama

ORGANEL BERMEMBRAN TUNGGAL

1. Badan Golgi (kompleks golgi, diktiosom)
• Banyak ditemukan pada sel-sel kelenjar
• Berfungsi: ekskresi dan sekresi, glikosilasi yaitu penambahan glukosa pada protein membentuk glikoprotein, dan pada sel epitel mensekresi mukosa
• Membentuk zimogen (enzim yang belum aktif)
• Pada sel tumbuhan berperan dalam pembentukan dinding sel.

2. Lisosom
• Mengandung enzim hidrolisis (seperti protease, lipase, nuklease, polisakaridase) yang berperan dalam pencernaan intra sel.
• Autofagi (menghancurkan bagian sel yang tidak berguna)
• Autolisis (memecah sel sendiri)
• Apoptosis (kematian sel yang terprogram), seperti pembentukan celah diantara jari pada embrio, pemutusan ekor berudu pada proses metamorfosis.

3. Badan mikro (microbody, mikrosom)
a. Peroksisom
• Menambahkan hidrogen dari substrat (seperti alkohol, racun, dan lain-lain) ke oksigen membentuk H2O2.
• Mengandung enzim katalase yang berfungsi untuk menetralkan hidrogen peroksida
(H2O2) ? H2O + O2
• Berperan dalam sintesis kolesterol dan garam empedu
• Berperan dalam sintesis lipid yang digunakan untuk membentuk mielin.
• Memecah purin yang selanjutnya untuk dibentuk asam urat.

b. Glioksisom
• Terletak berdekatan dengan kloroplast dan berfungsi untuk fotorespirasi, respirasi yang diaktifkan oleh cahaya.
• Berperan juga untuk fiksasi nitrogen pada proses simbiotik.
• Mengandung enzim yang yang dapat mengubah lemak menjadi karbohidrat yang digunakan sebagai sumber energi untuk perkecambahan biji.

4. Retikulum Endoplasma
• Terdiri atas RE halus dan RE kasar
• RE halus berfungsi dalam bermacam-macam proses metabolisme seperti pembentukan lemak termasuk hormon steroid, metabolisme karbohidrat dihati, dan menawarkan obat dan racun.
• RE kasar berfungsi untuk mensintesis protein sekretori seperti hormon insulin dan membentuk membran pada sistem endomembran seperti organel
• RE secara umum berfungsi dalam sistem transportasi pada sintesis protein.

5. Vakuola
• 3 macam vakuola: (a) vakuola makanan, berfungsi untuk menyimpan dan mencerna makanan, (b) vakuola kontraktil (berdenyut) berfungsi mengatur tekanan osmosis sel (osmoregulasi), (c) vakuola sentral, dibatasi oleh membran tonoplast berisi: garam anorganik, butir aleuron, glikosida, tanin, minyak atheris, alkaloid, lateks, butir pati, dan lain-lain.
• Pada sel penyusun mahkota bunga, vakuola mengandung banyak pigmen sehingga mahkota bunga berwarna menarik untuk memikat serangga dan membantu penyerbukan. Vakuola juga dapat untuk melindungi sel dari pemangsa karena mengandung senyawa beracun atau aroma yang tak sedap.

 

ORGANEL BERMEMBRAN GANDA

1. Nukleus
• Cairan dalam nukleus disebut nukleoplasma yang didalamnya terdapat kromatin dan nukleolus (anak inti).
• Berfungsi: pembawa informasi genetik, pusat pengendali proses-proses seluler, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi sel.
• Nukleolus berfungsi untuk membentuk rRNA.

 2. Mitokondria
• Disebut juga the power house.
• Membran dalam melekuk kedalam membentuk krista, sedangkan cairannya disebut matriks.
• Mengandung DNA, RNA, dan ribosom
• Berfungsi dalam respirasi sel, oksidasi lemak (?-oksidasi), dan membentuk ATP.

 3. Kloroplast
• Dibangun oleh sistem membran membentuk kantong pipih (seperti uang logam) yang disebut tilakoid. Tumpukan tilakoid disebut granum (jamak: grana)
• Merupakan plastida berklorofil yang berfungsi untuk mensintesis zat makanan (fotosintesis) dan membentuk ATP.
• Mengandung DNA, RNA dan ribosom.

 

ORGANEL TIDAK BERMEMBRAN

1. Mikrotubulus, mikrofilamen, dan filamen intermediet
• Menentukan bentuk/struktur sel (sitoskeleton = kerangka sel), pembentukan sentriol, flagel, ekor sperma dan berperan dalam pembelahan sel.

2. Sentrosom
• Terdiri atas sepasang sentriol, yang disusun oleh mikrotubulus
• Berperan dalam pembentukan spindel yang berguna dalam proses pembelahan sel

3. Ribosom
• Bebas atau terikat pada RE
• Pada sel eukariot digunakan untuk sintesis protein (penggabungan asam amino).
• Berperan juga untuk sintesis protein: untuk sekresi, membran plasma (seperti reseptor), dan protein lisosom.

KOMPONEN SEL LAINNYA

1. Dinding sel
• Pada tumbuhan, komponen utama : selulosa, pada monera (bakteri dan alga biru) tersusun oleh senyawa peptidoglikan, sedang pada jamur tersusun dari kitin.
• Hubungan plasma antar sel tumbuhan: plasmodesmata. Hubungan ini melalui lubang pada dinding sel yang disebut noktah.