Platyhelminthes disebut juga cacing pipih (platy berarti pipih dan helminthes berarti cacing)

a.   Ciri-Ciri 

  • Bentuk tubuh pipih, simetri bilateral, triploblastik, dan acoelomata.
  • Tubuhnya terdiri atas bagian kepala (anterior), ekor (posterior), bagian punggung (dorsal), bagian perut (ventral), dan bagian samping (lateral).
  • Sistem pencernaan makanan belum sempurna, terdapat mulut dan belum memiliki anus. Makanan masuk melalui mulut —> farink —> usus —> dan dikeluarkan melalui mulut.
  • Belum memiliki sistem respirasi. Masuknya oksigen (O2)dan keluarnya karbon dioksida (CO2) melalui permukaan kulit.
  • Sistem ekskresi tersusun atas sel-sel bersilia ( flame cells /aster / sel api ).
  • Susunan syaraf  terdiri  atas 2 ganglia yang  berbentuk cincin membentuk tangga tali.
  • Reproduksi secara  seksual dan aseksual. Secara seksual dilakukan dengan  perkawinan silang atau perkawinan sendiri, karena  bersifat hermaprodit (monoceus). Secara aseksual dengan  fragmentasi dan membentuk generasi baru (regenerasi).
  • Hidup bebas di air tawar maupun tempat–tempat lembab.

b.  Klasifikasi Platyhelminthes

Platyhelminthes terbagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria (cacing berambut getar), Trematoda (cacing isap), dan Cestoda (cacing pita).

1)     Kelas Turbellaria (Cacing Berambut Getar)

Ciri dan Karakteristik

  • memiliki struktur tubuh yang bersilia. Silia ini berfungsi sebagai alat gerak. Selain menggunakan silia, hewan dari kelas ini bergerak menggunakan otot tubuhnya yang menyerupai gelombang.
  • memiliki stigma/oseli (bintik mata), yaitu indera yang  peka terhadap rangsang cahaya  dan aurikula (telinga) sebagai indera peraba.
  • tidak memiliki sucker (alat penghisap / pelekat).
  • Sistem syaraf berupa ganglia.
  • sistem pencernakan masih sederhana (mulut, faring, usus), mulut di    bagian ventral.
  • sistem ekskresi berupa sel – sel api (aster/flame sel ).
  • sistem reproduksi secara vegetatif dengan amphigoni dan Memiliki daya regenerasi yang  tinggi (apabila tubuhnya terpotong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru), dan secara  generatif dengan  perkawinan (bersifat hermaprodit).
  • hidup bebas di air tawar dan di tempat yang lembab.

Contoh :

  • Dugesia trigina, Planaria sp (hidup di air tawar yang  tidak berpolusi). Cacing ini dapat digunakan sebagai indikator biologis kemurnian air. Apabila dalam suatu perairan banyak terdapat cacing ini, berarti air tersebut belum tercemar karena cacing ini hanya dapat hidup di air yang jernih, sehingga apabila air tersebut tercemar maka cacing ini akan mati.
  • Biphalium sp , hidup di tempat lembab (di bawah lumut)

2)     Kelas Trematoda (Cacing Isap)

Ciri dan Karakteristik

  • bentuk pipih seperti lembaran daun.
  • memiliki alat penghisap (sucker) di bagian anterior (mulut) dan posterior (ventral tubuh), sehingga bersifat endoparasit atau merugikan.(sucker) yang berfungsi sebagai pengisap cairan tubuh inangnya.
  • tubuh tersusun atas lapisan kutikula yang befungsi melindungi Trematoda dari enzim penghancur yang dikeluarkan oleh organisme inang.
  • tidak memiliki silia (rambut getar).
  • sistem syarat, respirasi, dan ekskresi sama seperti pada Planaria sp.
  • sistem reproduksi secara generatif (bersifat hermaprodit), secara vegetatif dengan cara partenogenesis.

Contoh :

  • Fasciola hepatica,  habitat pada hati hewan ternak (kambing, kerbau, dan sebagainya). bentuk pipih seperti daun, memiliki 2 alat isap, sifat kelamin hermaprodit, dan tidak bersegmen.   Siklus Hidup-nya :cacing dewasa —> telur —> stadium mirasidium  (larva 1)  —> sporocyste —> redia (larva 2) —> sercaria (larva 3) —> metasercaria —>cyste —> cacing dewasa. Cacing dewasa dan telur berkembang dalam tubuh sel inang.  larva 1 – larva 3 berkembang dalam tubuh hospes siput air ( Lymnea sp ) dan ikan, metasercaria dan cyste hidup di alam bebas.

Siklus Hidup Fasciola hepatica

  • Chlonorchis sinensis , habitat di hati manusia. ciri–ciri dan siklus hidupnya sama dengan Fasciola hepatica, dengan  inang perantara Siput (Alocinma sp ) dan ikan air tawar.

  • Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni  ; habitat pada pembuluh darah (vena), sehingga di sebut juga cacing darah. Inang perantaranya adalah Siput (Oncomelanian hupensis). Bersifat sbg parasit ®  menimbulkan penyakit (schistosomiasis)  yang dapat  menyebabkan kerusakan pada hati, jantung, limfa, kantung kemih, dan ginjal.

  • Fasciola buski,  hidup di usus
  • Paragonimus westermani ,  hidup di paru–paru
  • Metagonimus yokogawai ,  hidup dalam usus halus

3)     Kelas Cestoda (Cacing Pita)

Ciri dan Karakteristik

  • Bentuk tubuh pipih panjang seperti  pita.
  • Tubuh terbagi atas kepala (scolex), leher (collum), dan tubuh belakang (abdomen).  Pada scolex terdapat alat kait (rostellum)  dan 4 buah alat  isap (sucker) untuk melekat pada  dinding usus.  Abdomen terdiri  atas ruas–ruas  yang masih semu (Pseudosegmen). Tiap ruas dinamakan proglotid,  yang  didalamnya terdapat sistem syaraf, respirasi, ekskresi,  pencernakan, dan reproduksi. Proglotid  yang tersusun secara tidak beraturan dinamakan strobilasi.
  • Tubuh  dilapisi  kutikula yang tebal, dan tidak  memiliki silia.
  • Belum memiliki mulut dan alat pencernakan yang nyata.
  • Reproduksi secara  vegetatif dengan fragmentasi proglotid, dan secara generatif dengan perkawinan. Tiap proglotid memiliki ovarium     dan testis, jika terjadi pembuahan ribuan telur dalam proglotid mengandung embrio (onkosfer).

Contoh :

  • Taenia solium,  hidup pada usus manusia dan sebagai hospes adalah daging babi.  Siklus hidupnya :  proglotid yang  dewasa keluar lewat feces dan mengandung larva ankosfor, dan menempel pada tanaman. Bila termakan oleh babi akan tumbuh menjadi heksakant. Heksakant menembus dinding  usus  masuk ke aliran darah, kemudian ke dalam otot atau jaringan lain pada babi menjadi sistiserkus.  Bila sistiserkus dalam daging hewan ternak babi termakan manusia akan menetas menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia.

Daur Hidup Taenia solium

  • Taenia saginata ,  parasit pada manusia dengan perantara daging sapi. siklus hidupnya hampir sama dengan Taenia solium.
  • Taenia echinococcus parasit pada  usus manusia dengan perantara binatang buas (anjing).
  • Diphylobothrium latum ,  parasit pada  usus manusia dengan perantara hewan aquatik (ikan).
  • Choanotaenia infundibulum,  inang tetapnya adalah  ayam dan inang    perantaranya adalah  hewan arthropoda.

c.  Peranan Platyhelminthes

  • Hampir semua anggota Platyhelminthes merugikan (parasit), Caing Isap menyebabkan penyakit, cacing pita yang sangat panjang dapat menyumbat usus dan menyerap sari-sari makan yang  cukup banyak.
  • Planaria sp dapat digunakan sebagai indikator perairan yang tidak tercemar oleh limbah.

 

Semua materi diambil dari sini

Ciri-ciri coelenterata

  1. Tubuh simetri radial dan diploblastik.
  2. Rongga tubuh berfungsi sebagai usus.
  3. Memiliki tentakel yang berfungsi untuk menangkap atau melumpuhkan mangsa.
  4. Pada tentakel dilengkapi dengan sel knidobiast/knidosit yang mengandung sel penyengat (nematokis).
  5. Pengambilan gas O2
  6. Habitat di perairan (air tawar/laut).
  7. Tubuh mengalami metagenesis menjadi dua tipe, yaitu:
    • Tipe polip, yaitu tipe tubuh yang hidupnya tak bebas atau menempel pada substrat tertentu.
    • Tipe medusa (seperti payung), yaitu tipe yang dapat hidup bebas (dapat berenang).

8. Sistem perkembangbiakannya, yaitu:

    • Perkembangbiakan secara tidak kawin, melalui pembentukan tunas/kuncup yang menempel pada hewan induknya.
    • Perkembangbiakan kawin melalui fertilisasi eksternal, yaitu dengan penyatuan sperma dengan sel telur hingga membentuk zigot.

Klasifikasi Coelenterata
Coelenterata diklasifikasikan menjadi tiga kelas. yaitu:

Hydrozoa.

  • Hidup di air tawar atau air laut.
  • Cara hidup yaitu dengan berkoloni.
  • Organisme ini mempunyai bentuk tubuh seperti silinder dan dapat bergerak di bebatuan untuk menangkap makanan. Setelah berhasil menangkap makanannya  dimasukannya kedalam tubuh melalui HIPOSTOM (Mulut).
  • Perkembang biakannya dilakukan secara aseksual dan seksual.
  • Contoh : Hydra, Obelia, dan Physalia

Scypozoa.

  • Berukuran besar, banyak di pantai pantai sebagai ubur ubur.dan hidup di  laut
  • Alat pencernaannya berupa saluran bercabang
  • Bagian tepinya di kelilingi tentakel
  • Disekitar mulutnya terdapat empat lengan yang dilengkapi dengan NEMATOKIST yang berfungsi untuk melemahkan mangsa.
  • Sistem saraf berbentuk anyaman
  • Contoh Aurelia aurita atau ubur ubur, Cyanea dan Chrysaora frutteoens.

 

 

 

 

Anthozoa.

  • Berbentuk mirip bunga, memiliki warna beraneka ragam dan merupakan pembentuk anemon laut atau terumbu karang
  • Memiliki tentakel dalam jumlah yg banyak, kelipatan  8
  • Hewan ini hidup di air laut yang jernih
  • Hanya memiliki bentuk polip dengan ukuran yang lebih besar daripada dua jenis yang lain.
  • Contoh: Tubastera, Turbinaria, dan Urticina

Fotorespirasi (atau “respirasi cahaya“) adalah respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan energi dan ketersediaan oksigen dalam sel juga memengaruhi fotorespirasi.

Fotorespirasi disebut juga “asimilasi cahaya oksidatif”, terjadi pada mesofil daun terutama pada tumbuhan C3, seperti kedelai dan padi. Proses ini terjadi pada stroma kloroplas, dan didukung oleh peroksisom dan mitokondria.

Secara biokimia, proses fotorespirasi merupakan cabang dari jalur glikolat. Enzim utama yang terlibat adalah Rubisco (ribulosa-bifosfat karboksilase-oksigenase). Rubisco memiliki dua sisi aktif: sisi karboksilase yang aktif pada fotosintesis dan sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi pada stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, ribulosa bifosfat (RuBP), dan juga dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion Magnesium dan derajat keasaman (pH) sel. Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis, suatu kondisi yang tidak disukai kalangan pertanian, karena mengurangi akumulasi energi.

Jika kadar CO2 dalam sel rendah (misalnya karena meningkatnya penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen sangat tinggi dan stomata menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi Phosphoglikolat dan Phosphogliserat (dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). Phosphogliserat akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. Phosphoglikolat memasuki peroksisoma, lalu mitokondria, lalu kembali ke peroksisoma untuk diubah menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal oleh siklus Calvin menjadi gliseraldehid-3-fosfat (G3P).

Secara skematik fotorespirasi sebagai berikut:

photorespiratory pathway

Metabolisme Tanaman C4

c4 metabolism

Metabolisme Tanaman CAM

 

CAM metabolism

 

Pembagian mulut serangga tergantung dari : stadium perkembangan, bentuk makanan dan enis makanannya.

1. TIPE MENGGIGIT – MENGUNYAH (chewing type)
bagian-bagiannya :labrum, epypharynx, mandibula,maxila, hypopharynx & labium
contoh : larva Lepidoptera, nimpa & imago Isoptera, Coleoptera, dan Orthoptera

2. TIPE MENGUNYAH – MENGHISAP (Chewing Lapping type)
Tipe ini mempunyai ciri: maxila & labium memanjang & menyatu, ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut “ flabellum”
contoh : lebah madu / Apis cerana

3. TIPE MENJILAT – MENGHISAP (Sponging type)

Ciri: Labium berubah menjadi tabung, ruas pangkal tabung disebut “rostrum” dan ujungnya disebut “labellum”
contoh : lalat rumah

4. TIPE MENUSUK – MENGHISAP (Piercing & sucking type)
Ciri: (a) Labium sangat menonjol, bukan untuk menusuk dan mengisap, (b) Ada 4 “stylet” yang sangat runcing, untuk menusuk & mengisap cairan dari maxilla dan mandibula, (c) Stylet menempel pada labium. contoh : kepik (Ordo Hemiptera), wereng (Ordo Homoptera)

5. TIPE MENGHISAP (Siphoning type)
Ciri: labrum mengecil, palpus maxillaris mengecil atau menghilang, tidak ada mandibula, labium mempunyai palpus labialis yang berambut dan memiliki 3 ruas, “proboscis” dibentuk oleh bagian maxilla yaitu galea menjadi suatu tabung panjang dan menggulung seperti pegas, dan proboscis tidak dapat dipergunakan untuk menusuk kulit binatang, epidermis daun, ataupun buah dan biji.
contoh : ngengat, kupu-kupu

Klas 1
         1. Bryophyta & Pterydophyta, klik disini
Klas 2
  1. Biologi Sel, klik disini
  2. Spermatophyta, klik disini

Klas 3

  1. Pertumbuhan & Perkembangan, klik disini
  2. Metabolisme, klik disini
  3. Materi Hereditas,klik disini
  4. Reproduksi Sel,klik disini
  5. Genetika, klik disini
  6. Mutasi, klik disini
  7. Asal Usul Kehidupan, klik disini
  8. Evolusi,klik disini
  9. Bioteknologi, klik disini
PEMBANDING PROKARIOT EUKARIOT
Organisme Bakteri dan alga biru (Cyanophyta) Fungi,tumbuhan dan hewan
Ukuran sel 1 sampai 10 mikrometer 10 sampai 100 mikrometer
Metabolisme Aerob dan anaerob Aerob
Organel Hanya ribosom Nukleus, mitokondria, RE, lisosom.       Kloroplast, dll
DNA Letak : sitoplasmaBentuk : sirkuler Letak : nukleoplasmaBentuk : benang halus yang sangat panjang
RNA dan protein Disintesis dalam sitoplasma Disintesis di nukleoplasma, protein disintesis di sitoplasma
Sitoplasma Tanpa sitoskelet; tidak ada gerakan sitoplasma Memiliki sitoskelet; terjadi gerakan sitoplasma
Pembelahan sel Kromatin ditarik dengan jalan melekat pada membran sel Kromosom dipisahkan oleh spindel pembelahan
Organisasi seluler Umumnya monoseluler Umumnya multiseluler

 

1. Sifat Fisika
a. Cairan sitoplasma bersifat koloid (larutan, ukuran partikel < 0,001 ?, koloid, ukuran partikel 0,001 – 0,1 ?, suspensi, ukuran partikel 0,1 ?)
b. Sifat koloid memungkinkan terjadinya gerak Brown, gerak acak partikel dipengaruhi oleh: berat jenis, suhu dan ionisasi, gerak rotasi dan gerak sirkulasi.
c. Dapat mengalami perubahan dari sol ke gel.
d. Efek Tindal yaitu kemampuan membiaskan cahaya.

2. Sifat Kimia

a. Mengandung senyawa anorganik : air, garam mineral dan gas (O2, N2, dan CO2).
b. Mengandung senyawa organik: monosakarida, lemak, protein, dan asam nukleat.
c. Mengandung enzim sebagai biokatalisator
d. Mempunyai derajat keasaman (pH) tertentu.

Ada 2 cara pembentukan embrio tumbuhan Angiospermae:

  1. Fertilisasi (amfiksis, amfimiksis): embrio terjadi dari fertilisasi inti generatif dan ovum (sel telur).
  2. Tanpa fertilisasi (apomiksis): terjadinya embrio tanpa pembuahan (fertilisasi).
  • Partenogenesis: embrio berasal dari sel telur yang tidak dibuahi.
  • Apogami: embrio berasal dari bagian lain dalam kandung lembaga tanpa dibuahi.
  • Embrio adventif: embrio terjadi dari pertumbuhan jaringan nuselus

Poliembrioni: embrio lebih dari satu, akibat amfiksis dan apomiksis terjadi bersama-sama

ORGANEL BERMEMBRAN TUNGGAL

1. Badan Golgi (kompleks golgi, diktiosom)
• Banyak ditemukan pada sel-sel kelenjar
• Berfungsi: ekskresi dan sekresi, glikosilasi yaitu penambahan glukosa pada protein membentuk glikoprotein, dan pada sel epitel mensekresi mukosa
• Membentuk zimogen (enzim yang belum aktif)
• Pada sel tumbuhan berperan dalam pembentukan dinding sel.

2. Lisosom
• Mengandung enzim hidrolisis (seperti protease, lipase, nuklease, polisakaridase) yang berperan dalam pencernaan intra sel.
• Autofagi (menghancurkan bagian sel yang tidak berguna)
• Autolisis (memecah sel sendiri)
• Apoptosis (kematian sel yang terprogram), seperti pembentukan celah diantara jari pada embrio, pemutusan ekor berudu pada proses metamorfosis.

3. Badan mikro (microbody, mikrosom)
a. Peroksisom
• Menambahkan hidrogen dari substrat (seperti alkohol, racun, dan lain-lain) ke oksigen membentuk H2O2.
• Mengandung enzim katalase yang berfungsi untuk menetralkan hidrogen peroksida
(H2O2) ? H2O + O2
• Berperan dalam sintesis kolesterol dan garam empedu
• Berperan dalam sintesis lipid yang digunakan untuk membentuk mielin.
• Memecah purin yang selanjutnya untuk dibentuk asam urat.

b. Glioksisom
• Terletak berdekatan dengan kloroplast dan berfungsi untuk fotorespirasi, respirasi yang diaktifkan oleh cahaya.
• Berperan juga untuk fiksasi nitrogen pada proses simbiotik.
• Mengandung enzim yang yang dapat mengubah lemak menjadi karbohidrat yang digunakan sebagai sumber energi untuk perkecambahan biji.

4. Retikulum Endoplasma
• Terdiri atas RE halus dan RE kasar
• RE halus berfungsi dalam bermacam-macam proses metabolisme seperti pembentukan lemak termasuk hormon steroid, metabolisme karbohidrat dihati, dan menawarkan obat dan racun.
• RE kasar berfungsi untuk mensintesis protein sekretori seperti hormon insulin dan membentuk membran pada sistem endomembran seperti organel
• RE secara umum berfungsi dalam sistem transportasi pada sintesis protein.

5. Vakuola
• 3 macam vakuola: (a) vakuola makanan, berfungsi untuk menyimpan dan mencerna makanan, (b) vakuola kontraktil (berdenyut) berfungsi mengatur tekanan osmosis sel (osmoregulasi), (c) vakuola sentral, dibatasi oleh membran tonoplast berisi: garam anorganik, butir aleuron, glikosida, tanin, minyak atheris, alkaloid, lateks, butir pati, dan lain-lain.
• Pada sel penyusun mahkota bunga, vakuola mengandung banyak pigmen sehingga mahkota bunga berwarna menarik untuk memikat serangga dan membantu penyerbukan. Vakuola juga dapat untuk melindungi sel dari pemangsa karena mengandung senyawa beracun atau aroma yang tak sedap.

 

ORGANEL BERMEMBRAN GANDA

1. Nukleus
• Cairan dalam nukleus disebut nukleoplasma yang didalamnya terdapat kromatin dan nukleolus (anak inti).
• Berfungsi: pembawa informasi genetik, pusat pengendali proses-proses seluler, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi sel.
• Nukleolus berfungsi untuk membentuk rRNA.

 2. Mitokondria
• Disebut juga the power house.
• Membran dalam melekuk kedalam membentuk krista, sedangkan cairannya disebut matriks.
• Mengandung DNA, RNA, dan ribosom
• Berfungsi dalam respirasi sel, oksidasi lemak (?-oksidasi), dan membentuk ATP.

 3. Kloroplast
• Dibangun oleh sistem membran membentuk kantong pipih (seperti uang logam) yang disebut tilakoid. Tumpukan tilakoid disebut granum (jamak: grana)
• Merupakan plastida berklorofil yang berfungsi untuk mensintesis zat makanan (fotosintesis) dan membentuk ATP.
• Mengandung DNA, RNA dan ribosom.

 

ORGANEL TIDAK BERMEMBRAN

1. Mikrotubulus, mikrofilamen, dan filamen intermediet
• Menentukan bentuk/struktur sel (sitoskeleton = kerangka sel), pembentukan sentriol, flagel, ekor sperma dan berperan dalam pembelahan sel.

2. Sentrosom
• Terdiri atas sepasang sentriol, yang disusun oleh mikrotubulus
• Berperan dalam pembentukan spindel yang berguna dalam proses pembelahan sel

3. Ribosom
• Bebas atau terikat pada RE
• Pada sel eukariot digunakan untuk sintesis protein (penggabungan asam amino).
• Berperan juga untuk sintesis protein: untuk sekresi, membran plasma (seperti reseptor), dan protein lisosom.

KOMPONEN SEL LAINNYA

1. Dinding sel
• Pada tumbuhan, komponen utama : selulosa, pada monera (bakteri dan alga biru) tersusun oleh senyawa peptidoglikan, sedang pada jamur tersusun dari kitin.
• Hubungan plasma antar sel tumbuhan: plasmodesmata. Hubungan ini melalui lubang pada dinding sel yang disebut noktah.

Antibodi adalah suatu zat yang dibentuk oleh tubuh, yang berasal dari protein darah jenis gama-globulin dan berfungsi untuk melawan antigen (zat asing/protein asing) yang masuk ke dalam tubuh. Berbagai jenis antibodi bekerja dengan beberapa cara untuk melawan antigen:

a. Opsonin adalah antibodi yang bekerja dengan merangsang leukosit untuk menyerang antigen atau kuman.
b. Lisin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menghancurkan antigen (lisis).
c. Presipitin adalah antibodi yang bekerja dengan cara mengendapkan antigen (presipitasi), dan
d. Aglutinin adalah antibodi yang bekerja dengan cara menggumpalkan antigen (aglutinasi).

Berdasarkan kemungkinan adanya gerak, maka persendian dibedakan menjadi: sinartrosis, amfiartrosis, diartrosis.

a. Sinartrosis

Sinartrosis adalah persendian yang tidak memungkinkan adanya gerak sama sekali antara dua tulang yang bersambungan. Oleh karena itu sinartrosis disebut juga sebagai sendi mati. Contoh sinartrosis adlah sutura, yaitu persendian antara tulang-tulang tengkorak. Ada bebrapa sutura yang membentuk persendian melalui hubungan dua tulang yang ujungnya kasar saling mengunci dan disatukan oleh jaringan ikat fibrosa. Namun ada beberapa sutura lain yang pada saat pertumbuhannya disatukan oleh jaringan tulang sehingga keduanya betul-betul menyatu, misalnya persambungan antara tulang dahi kanan dan tulang dahi kiri. Contoh sinartrosis yang lain adalah persendian antara diafisis dan epifisis dari tulang panjang. Pada tulang yang sedang tumbuh persendian ini disatukan oleh jaringan tulang rawan hialin, yang dikenal dengan nama cawan epifiseal. Sedangkan setelah tulang berhenti tumbuh, cawan epifiseal diganti oleh jaringan tulang sehingga epifisis dan diafisis betul-betul menyatu.

b. Amfiartrosis

Amfiartrosis adalah persendian yang masih memungkinkan adanya sedikit gerakan antara dua tulang yang bersendi, dan permukaan persendiannya dibatasi oleh jaringan antara. Jaringan antara itu dapat berupa jaringan tulang rawan fibrosa atau jaringan tulang rawan hialin. Contoh amfiartrosis yang dibatasi oleh tulang rawan fibrosa adalah persambungan antara ruas tuoleh tulang rawan fibrosa adalah persambungan antara ruas-ruas tulang belakang. Sedangkan contoh amfiartrosis yang dibatasi oleh tulang rawan hialin adalah persambungan antara tulang rusuk dengan tulang dada.

c. Diartrosis

Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan adanya gerak bebas antara tulang-tulang yang bersendi. Diartrosis juga disebut sebagai persendian sinovial, dengan ciri-ciri struktural sebagai berikut : persendian diselubungi oleh kapsul dari jaringan ikat fibrosa dan di sebelah dalam kapsul ini dibatasi oleh jaringan ikat halus, yang disebut membran sinovial, yang berfungsi menghasilkan cairan pelumas untuk mengurangi gesekan antar tulang.

Sebagian besar persendian rangka tubuh manusia adalah diartrosis. Persendian diartrosis dibedakan menjadi enam macam: sendi luncur (sendi geser), sendi engsel, sendi putar, sendi pelana, sendi peluru, sendi elipsoidal.

1) Sendi Putar

Pada sendi putar, permukaan tulang pertama yang membulat, meruncing, atau membentuk kerucut, bersendi dengan lekuk yang dangkal dari tulang yang lain. Memungkinkan gerak utama memutar, dan merupakan persendian monaksial. Contoh sendi putar adalah persendian antara tulang atlas dan dasar tulang tengkorak yang menghasilkan gerak menggelengkan kepala, persendian antara ujung proksimal tulang radius dan ulna yang menghasilkan gerakan supinasi dan pronasi tapak tangan.

2) Sendi Engsel

Permukaan sendi tulang pertama cekung, sedangkan permukaan sendi tulang kedua cembung, dan permukaan cembung tepat masuk ke permukaan cekung. Persendian ini memungkinkan gerakan hanya pada satu bidang datar, termasuk persendian satu sumbu (monaksial), dan merupakan gerak fleksi dan ekstensi seperti gerak membuka dan menutup pintu. Gerak fleksi adalah suatu gerakan yang mengacu pada gerak mengecilkan sudut, sedangkan gerak ekstensi mengacu pada gerak membesarkan sudut. Contoh sendi engsel adalah sendi siku dan sendi lutut.

3) Sendi Peluru

Pada sendi peluru, permukaan sendi tulang pertama yang berbentuk seperti bola masuk kepermukaan cekung seperti mangkuk dari tulang kedua, sehingga memungkinkan terjadinya gerak triaksial, yaitu gerak fleksi dan ekstensi, abduksi dan aduksi, serta gerak rotasi. Contoh sendi pelur u adalah persendian antara tulang lengan atas dengan tulang belikat, dan persendian antara tulang paha dengan tulang pinggul.

4) Sendi Pelana

Pada sendi pelana, permukaan ujung tulang pertama cekung masuk ke permukaan tulang kedua berbentuk cembung. Persendian ini memungkinkan gerak menyamping (kanan-kiri) dan gerak muka belakang, sehingga persendian ini termasuk persendian biaksial. Contoh sendi pelana adalah persendian antara tulang trapesium dan metakarpal dari ibu jari.

5) Sendi Luncur

Permukaan sendi biasanya datar, hanya mungkin melakukan gerakan kiri kanan dan muka belakang. Persendian yang memungkinkan gerak pada dua bidang datar seperti ini disebut persendian dua sumbu (biasksial). Contoh: persendian antara tulang-tulang karpal, antara tulang-tulang tarsal, antara sternum dan klavikula, dan antara skapula dan klavikula.

6) Sendi Elipsoid

Pada sendi elipsoidal, ujung tulang yang berbentuk oval masuk ke cekungan tulang lain yang berbentuk elips. Persendian ini memungkinkan gerak kiri-kanan dan muka-belakang, sehingga termasuk persendian biaksial. Contoh sendi elipsoidal adalah: persendian antara tulang radius dan tulang karpal yang memungkinkan gerak telapak tangan keatas bawah dan kekanan kiri.

2. Klasifikasi persendian berdasarkan jaringan yang menghubungkan

Berdasarkan jaringan yang menghubungkan, persendian dibedakan menjadi: sindemosis, sinkondrosis, sinostosis.

a. Sindesmosis

Sindesmosis, merupakan persendian dimana tulang yang bersendi dihubungkan oleh jaringan fibrosa padat. Misalnya pada persendian antara ujung distal tulang tibia dan fibula, juga pada sutura anak yang masih dalam pertumbuhan.

b. Sinkondrosis

Sinkondrosis, merupakan persendian dimana tulang yang bersendi dihubungkan oleh tulang rawan hialin. Contoh: persendian antara ruas-ruas tulang belakang yang dihubungkan oleh cawan pipih dari tulang rawan fibrosa, dan persendian antara tulang rusuk dengan tulang dada yang dihubungkan oleh tulang rawan hialin.

c. Sinostosis

Sinostosis, merupakan persendian dimana antara tulang yang bersendi dihubungkan oleh jaringan tulang. Contoh: sutura pada orang dewasa, persendian antara epifisis dan diafisis tulang panjang pada orang dewasa, serta persendian antara tulang sakrum pada orang dewasa.

Tadinya mo diupload satu persatu di hosting, tapi kok lamanya minta ampun.. demi mengejar target, maka file-file TO UN Biologi dititipin di drivenya google (tararenkyu ya mbah google) dan dapat kamu download melalui link bawah ini

 

Yang berwarna merah jawabannya ya…

Mekanisme Gerak otot
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (l955) mengemukkan teori kontraksi otot yang disebut model sliding filaments
Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin.. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin menyebabkan aktomiosin mengerut (kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi.

 

http://biomedia.begotsantoso.com/wp-content/uploads/2014/04/otot-4.png

Pada waktu kontraksi, filamen aktin meluncur di antara miosin ke dalam zona H (zona H adalah bagian terang di antara 2 pita gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi memendek yang tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi.

Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini mengubah sudut perlekatan ujung myosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Kemudian siklus tadi berulang Iagi.

Mekanisme Kontraksi Otot
Setiap miofbril tersusun atas satuan-satuan kontraktil yang disebut sarkomer. Garis gelap disebut zona Z, sedangkan garis terang disebut zona H. Garis gelap atau zona Z merupakan bagian tumpang-tindih dua molekul protein filamen otot, yaitu aktin dan miosin. Protein otot yang tersusun atas aktin dan miosin disebut aktomiosin.

Filamen aktin tampak lebih tipis daripada filamen miosin. Filamen aktin tersusun atas monomer aktin dan berkedudukan sejajar memanjang. Sedangkan, filamen miosin merupakan filamen tebal dan memanjang yang memiliki ” kepala” untuk membuat perlekatan.

Jika terjadi kontraksi otot, terjadilah pergeseran miosin di dalam ruang lingkaran aktin. Panjang aktomiosin berkurang, zona Z menjadi bertambah panjang, sedangkan zona H menjadi lebih pendek. Jika otot berkontraksi maksimum, ukuran otot dapat 20% lebih pendek daripada ukuran saat berelaksasi